DiTenun

Artikel/

Bagaimana Ulos Menjadi Gerbang Kita Ke Tiga Tingkatan Semesta Suku Batak

Ibarat benang pakan dan lungsi yang menjalin, keberadaan kain Ulos di kehidupan Suku Batak pun berkelindan erat. Kain Ulos tak pernah absen dari seluruh momen penting di siklus hidup seorang manusia Suku Batak. Dari lahir, menjadi dewasa, menikah, punya anak, hingga meninggal dunia Ulos selalu menyertai ritualnya.

Namun lebih dari barang fungsional, Ulos bagi orang Batak adalah simbol identitas dan simpul tradisi mereka. Bagi mereka yang bisa “membaca” dan “memaknai” kain Ulos dengan sebenar-benarnya, kain tradisional ini bahkan bisa jadi gerbang untuk menyelami budaya Batak, salah satunya soal kosmologi mereka.

Dari Ulos misalnya, kita bisa menyelami kepercayaan suku Batak soal struktur semesta. Kepercayaan Batak tradisional percaya bahwa Semesta ini terdiri dari tiga tingkatan dunia. Banua Ginjang (Dunia Atas) atau kahyangan yang dihuni dewa-dewi dan roh; Banua Tonga (Dunia Tengah) yang dihuni oleh manusia, roh-roh orang mati, dan roh-roh jahat; serta Banua Toru (Dunia Bawah) yang berisi roh-roh jahat. Masing-masing dunia diatur oleh seorang dewa, Batara Guru di Banua Ginjang, Debata Sori di Banua Tonga, dan Mangala Bulan di Banua Toru. Meski begitu, suku Batak percaya ketiga dewa itu tidak hidup sendiri-sendiri. Ketiganya adalah unsur pembentuk kuasa agung bernama Debata Mulajadi Na Bolon, sang penggerak semesta.

“Debata na Tolu, sitolu suhut sitolu harajaon,” begitu orang Batak menyebut kehendak agung semesta yang diatur oleh Debata Mulajadi Na Bolon ini. Ugamo Malim yang merupakan agama tradisional suku Batak berpegang penuh pada kepercayaan ini.

Di kain Ulos, kita bisa melihat pembagian ini pada struktur dan warna. Kain Ulos umumnya dibagi jadi tiga bagian utama. Sisi kanan dan kiri yang polos menyimbolkan Banua Ginjang (Dunia Atas) dan Banua Toru (Dunia Bawah) yang dihuni roh-roh. Dua bagian semesta yang hidup dalam kesunyian. Sementara, motif Ulos umumnya ditaruh di bagian tengah dan mendapat bagian yang lebih lebar. Ini karena motif Ulos menyimbolkan Banua Tonga (Dunia Tengah) yang semarak, dunia yang hiruk pikuk oleh kehidupan manusia. Kehidupan manusia inilah yang jadi inspirasi pengembangan segala motif Ulos.

Dari segi warna, putih, merah, dan hitam yang dominan di kain Ulos juga mewakili tiap dunia. Warna putih di Ulos jadi simbol Banua Ginjang (Dunia Atas) karena membawa sifat suci serta jujur dan tulus (sohaliapan, sohapurpuran). Sementara merah menyimbolkan Banua Tonga (Dunia Tengah) dengan sifatnya yang berani dan kuat (hagogoon). Sementara itu warna hitam yang menyiratkan sifat wibawa, rahasia serta kepemimpinan (hahomion) jadi simbol Banua Toru (Dunia Bawah).

Banyaknya “tiga unsur” pembentuk dalam budaya Batak ini membentuk konsep sakral dalam budaya Batak yang dikenal dengan istilah Dalihan Na Tolu. Dan keseluruhan kosmologi tersebut terangkum dengan sangat apik dalam sehelai Ulos.

 

oleh: Redaksi DiTenun

Referensi: Struktur Cosmos Masyarakat Batak dalam Simbol Ulos dalam Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology)

(Gultom, 1992); (Situmorang, 2009). 

(Tobing, 1963; Sinaga 2014).